Rabu, 12 November 2008

Pahala Seorang Guru

Seorang wanita datang menjumpai Fatimah binti Rasul dan berkata, “Aku memiliki seorang ibu yang sudah tua. Untuk melakukan shalat ia mengalami kesulitan. Ibuku mengirimku kesini untuk menanyakan beberapa pertanyaan”. Wanita itu menanyakan sejumlah pertanyaan. Satu demi satu pertanyaan itu dijawab dengan detail dan cermat oleh Fatimah. Kemudian wanita itu malu untuk bertanya lagi dan berkata, “Wahai putri Rasul! Cukup sampai di sini. Aku merasa sungkan bertanya terus menerus”.

Fatimah berkata: “Jangan kawatir! Bertanyalah sebanyak yang engkau suka! Aku akan menjawabnya dengan senang hati. Seandainya engkau diupah untuk mengangkat barang ke suatu tempat, sementara upahnya adalah istana apakah engkau akan menolak mengangkat barang itu?”. Wanita itu berkata, “Tentu tidak! Aku tidak akan merasa lelah dan bosan karena dibalik kerja keras itu bayaran yan besar ada di depan mataku”.

Fatimah melanjutkan, “Ketahuilah bahwa untuk setiap jawaban yang aku berikan, Allah saw memberikan pahala seluas bumi dan seisinya. Dengan pahala sebesar itu bagaimana aku merasa bosan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ibumu? Ayahku telah berkata, Ketika ulama dibangkitkan pada hari kiamat, Allah swt memberikan pahala kepada mereka sesuai keluasan ilmu mereka dan usaha mereka untuk menyadarkan umatnya. Setiap ulama diberikan sejuta pakain dari cahaya. Kemudian malaikat berseru, Wahai ulama yang telah membimbing umat Muhammad dengan ilmu kalian, maka sebesarman mereka memanfaatkan ilmu kalia, maka sebesar itu kalian berhak memperoleh pahala! Bahkan untuk sebagian mereka hanya diberikan seratus ribu pakaian. Setelah pakaian itu dibagikan, Allah swt berfirman, Sekali lagi berikan pakaian kepada mereka sampai pakaian mereka sempurna”.

Kemudian datang perintah agar hadiah itu digandakan, demikian juga mengenai murid-murid ulama yang menurunkan ilmunya kepada murid-murid berikutnya untuk mereka pahala yang berlipat-lipat.

Kemudian Fatimah berkata kepada wanita itu, “Satu benang dari pakaian itu seribu lebih baik dari semua yang diterangi oleh matahari. Karena kenikmatan dunia bercampur dengan kesulitan dan kesusahan, sementara nikmat akhirat tiada memiliki kekurangan dan cela”.


Hikmah :

Kisah tersebut menjelaskan betapa besar keutamaan menyampaikan ilmu kepada orang lain. Setiap ilmu yang diberikan pahala yang besar bagi seorang guru, pahala akan berlipat apabila ilmu itu diamalkan dan akan berlipat pula pahala seorang guru apabila muridnya menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Dan setiap orang lain tersebut menyampaikan ilmunya kepada orang lain lagi berlipat terus pahala tak terbatas bagi seorang guru. Bahkan setelah meminggal dan berlalu ratusan tahun apabila ilmu tersebut terus disampaikan kepada orang lain pahala besar terus mengalir padanya.

Konteks ilmu tentu tidak terbatas pada ilmu agama. Namun ilmu pengetahuan secara umum yang dapat memberikan kemaslahatan di dunia ini terlebih guna kemaslahatan kehidupan di akhirat kelak.

Kiat Menjadi Kaya

Seorang laki-laki mendatangi Rasul saw untuk meminta bantuan keuangan. Nanum sebelum ia sempat menyampaikan maksud hatinya itu Rasul saw berkata, “Barang siapa meminta hajat atau pertolongan dari kami, maka kami tentu membantunya. Namun apabila dia tidak meminta dan besar hati, maka Allah akan menjadikannya kaya”. Demi mendengar nasihat Rasul saw tersebut, lelaki itu membatalkan niatnya dan kemudian pulang.

Keesokan harinya ia kembali datang ke rumah Rasul saw dengan tujuan yang sama dan kali inipun ia pulang sebelum sempat menyampaikan hajatnya. Kejadian tersebut terulang hingga tiga kali. Di hari keempat lelaki itu menyewa kapak dari seorang sahabatnya kemudian menuju gurun untuk mengumpulkan kayu belukar. Kayu belukar itu dibawa ke pasar dan ditukar dengan setengah kilo gandum. Ia membawa pulang gandum itu ke rumah dan rotinya dimakan bersama dengan seisi rumah. Ia meneruskan pekerjaan itu sehingga ia mampu membeli kapak sendiri. Dikemudian hari bahkan ia mampu membeli seekor unta muda dan mampu menggaji seorang pemuda. Singkanya ia menjadi kaya dan berkecukupan.

Suatu hari ia menjumpai Rasul saw. Sebelum ia berkata apa-apa, Rasul berkata padanya, “Tidakkah sudah aku katakan barang siapa meminta hajat kepada kami, maka kami membantunya, namun apabila ia kaya hati, nisacaya Allah akan menjadikannya berkecukupan”.


Hikmah :

Islam mengajarkan agar kita berusaha dan bekerja keras serta tidak mudah meminta bantuan kepada orang lain. Apa lagi meminta-minta adalah perbuatan yang tidak terpuji dalam Islam. Dan apa bila hendak meminta batuan hanya Allah yang pantas dimintai batuan. Tangan di atas jauh lebih baik dari pada tangan di bawah. Memberi adalah jauh lebih baik dari pada meminta. Apa bila ada orang yang memberi kepada kita tanpa kita meminta itu adalah rizki bagi kita.

Pahala Bagi Orang Yang Pemaaf

Suatu hari Rasul saw sedang duduk. Tiba-tiba beliau tersenyum sehingga gigi putih beliau tampak jelas. Seorang yang berada disisinya menanyakan gerangan apa yang telah membuat beliau tersenyum. Rasul saw pun menjelaskan :

Dua orang laki-laki dari umatku datang menghadap Tuhan. Lelaki pertama berkata, Ya Tuhan ambilah hakku darinya!” Kemudian Tuhan meminta agar orang kedua bersedia membayar hak orang pertama”.

Ya Tuhan tidak ada lagi amalan baikku yang tersisa apalagi harta dunia”, jawab lelaki itu. “Kalau begitu, maka limpahkan dosaku kepadanya”, pinta lelaki pertama.

Setelah itu Rasul saw tidak dapat menyembunyikan ibanya seraya berkata, “Di hari itu semua orang sangat membutuhkan adanya orang lain yang dapat menanggung beban dosanya”. Kemudian Rasul saw melanjutkan ceritanya.

Tuhan berkata kepada laki-laki pertama, “Palingkanlah wajahmu dan arahkan pandanganmu ke surga!”Kemudian dia membalikkan wajahnya ke surga dan dia heran sementara di hadapannya terbentang surga yang luasnya ribuan kali bumi.

Surga itu adalah untuk setiap orang yang mau membelinya”, jawab Tuhan.

Siapakah yang dapat membelinya?” lanjut lelaki itu antusias.

Yan engkau”, jawab Tuhannya

Bagaimana mungkin hamba yang banyak dosa ini mampu membelinya?”, jawab lelaki itu.

Dengan tidak menuntut hakmu yang ada dipundaknya”, jelas Tuhan.

Jika demikian, maka aku bersedia memaafkan kesalahannya”, kata lelaki itu.

Setelah itu Tuhan berkata, “Gandenglah tangan saudaramu dan masuklah kalian berdua ke surga”.

Setelah menceritkan kejadian itu Rasul saw menasehati hadirin semua:

Tingkatkanlah ketakwaan dan perbaikilah hubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas)”.


Hikmah :

Marilah kita bersifat pemurah dan saling memaafkan. Baik itu kesalahan dari saudara kita yang dilakukan dengan tidak sengaja ataupun dilakukan dengan sengaja. Baik saudara kita minta maaf atas kesalahannya ataupun saudara kita acuh terhadap kesalahannya terhadap kita. Kisah di atas menceritakan betapa besar pahala bagi orang yang mau memaafkan, selain dapat menghapus dosa juga bisa minjadikan seorang pemaaf masuk surga.


Dua Belas Dirham Yang Membawa Berkah

Salah seorang sahabat datang menjumpai Rasul saw. Ia melihat Rasul saw mengenakan pakaian yang sudah usang dan sudah kelihatan lama. Ia kemudian mengeluarkan dua belas dirham dari kantongnya dan kemudian menghadiahkan dua belas dirham tersebut kepada orang yang paling dihormatinya itu sambil berkata : “Wahai kekasih Allah! Gunakanlah uang ini untuk membeli pakaian baru”. Rasul saw menerima uang itu dan menyerahkannya kepada Ali agar membelikan pakaian untuknya di pasar.

Ali bin Abi Thalib mengisahkan kejadian selanjutnya demikian :

Setelah uang itu ada di tanganku, aku segera berangkat ke pasar. Di pasar sesuai dengan perintah Rasul saw, aku membeli sehelai baju seharga dua belas dirham dan menyerahkan pakaian itu kepada Rasul saw. Tatkala Rasul saw melihat baju itu, beliau berkata : Baju itu tidak cocok untukku sehelai baju yang harganya lebih murah lebih cocok untukku. Jika si penjual tidak keberatan kembalikan dan minta uangnya”.

Akhirnya aku pulangkan baju itu dan mendapatkan uangnya kembali. Dengan demikian dua belas dirham itu aku serahkan ke tangan Rasul saw. Setibaku di rumah Rasul saw, penghulu umat itu mengajakku menemaninya pergi ke pasar untuk berbelanja pakaian. Dalam perjalanan menuju pasar kami melihat seorang budak yang sedang menangis. Rasul saw menghampiri dan menanyakan sebabnya. Budak itu menjawab : “Majikanku telah menyerahkan uang empat dirham untuk dibelanjakan beberapa barang, entah bagaimana uang itu hilang. Kini aku tak berani pulang”.

Rasul saw kemudian memberikan empat dirham dari dua belas dirham yang dimiliki kepada budak itu seraya berkata, “Sekarang belilah barang pesanan majikanmu setelah itu pulanglah ke rumah majikanmu dengan hati tenang”.

Setelah bersyukur kepada Allah Rasul saw meneruskan perjalanan menuju pasar. Di pasar beliau membeli pakaian dengan harga empat dirham.

gDalam perjalanan pulang kami menyaksikan seorang lelaki sedang kedinginan karena tak berpakaian. Rasul saw menangglkan pakaian yang sedang melekat di badannya lalu kemudian memberikan kepada pemuda itu. Setelah itu beliau kembali berjalan ke pasar. Setiba di pasar beliau membeli pakaian seharga empat dirham dan langsung memakainya. Semasa perjalanan pulang kami bertemu lagi dengan budak yang tadi diberi empat dirham oleh Rasul saw dalam keadaan duduk sedih dan cemas. Rasul saw bertanya, “Mengapa engkau belum pulang?”

Aku tidak berani pulang karena terlambat. Tuanku pasti akan memukulku.” Jawab wanita itu. Rasul saw menjawab, “Mari aku antarkan engkau pulang dan tunjukan padaku di mana rumahmu. Aku akan menjadi penengah agar tuanmu bersedia memaaf kesalahanmu”.

Rasul saw berjalan bersama budak itu. Setibanya di depan rumah, wanita itu berkata, “Inilah rumah tuanku”.

Dari balik pintu dengan suara lantang Rasul saw bersalam, “Assalamu 'alaikum wahai pemiliki rumah ini!” Namun tidak terdengar jawaban. Untuk kedua kalinya Rasul saw bersalam dan kali inipun tidak terdengar jawaban. Ketika untuk ketiga kaliny Rasul saw bersalam barulah terdengar jawaban dari dalam rumah. “Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”.

Mengapa engkau tidak menjawab dari tadi?” tanya Rasul saw kepada pemiliki rumah itu. “Adakah engkau mendengar suaraku?” lanjut beliau.

Pemiliki budak wanita itu berkata, “Sejak pertama kami telah mendengar suara yang mulia dan kami kenal bahwa itu adalah suara manusia yang paling dikasihi Allah”.

Rasul saw berkata, “Lalu mengapa engkau tidak segera menjawabnya?”

Aku ingin mendengar ucapan engkau beberapa kali”. Jawab Sa'ad.

Kemudian Rasul saw berkata, “Wahai Sa'ad budakmu ini terlambat pulang. Maksudku kemari adalah untuk memohon kepadamu agar tidak menghukum wanita ini”.

Sa'ad berkata, “wahai Rasulullah! Oleh karena budak inilah engkau kemari. Maka saat ini juga akan aku merdekakan budak ini”.

Maka Rasul saw pun berkata : “Ya Allah, aku bersyukur kepadaMu karena menjadi dua belas dirham ini penuh berkah. Uang ini selain telah menyebabkan dua orang miskin memiliki pakaian yang layak juga telah menyebabkan seorang budak merdeka”.


Hikmah:

Kisah ini mengajak kita agar tidak memikirkan diri sendiri. Rasulullah saw mampu membeli pakaian seharga dua belas dirham, tapi beliau hanya membeli pakaian seharga empat dirham dan sisanya dipergunakan untuk membantu sesama. Bahkan dengan uang dua belas dirham yang diniatkan untuk membantu sesama dapat menjadikan seorang budak merdeka.

Banyak orang kaya diantara kita yang membelanjakan dan menghambur-hamburkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak perlu sementara mereka tahu bahwa banyak saudara mereka yang hanya untuk makan saja susah. Bahkan banyak diantara saudara kita hanya demi mengumpulkan harta pribadi, mereka tidak segan-segan mengambil hak orang lain. Na'udzubillah mindalik.

Senyum Rasulullah

Suatu hari Rasulullah saw memandang langit dan kemudian tersenyum. Seorang sahabat yang kebetulan melihat hal tersebut bertanya pada beliau, “Ya Rasul, Baru saja aku melihatmu menatap langit, kemudian engkau tersenyum. Gerangan apa yang terjadi?”

Rasulullah saw menjawab “Baru saja aku melihat dua malaikat turun ke bumi unutk mencatat pahala seorang mukmin yang setiap harinya beribadah dan shalat. Namun tidak seperti biasanya, hari itu malaikat tidak menjumpai orang tersebut di tempat peribadatannya, melainkan si abid (orang yang ahli ibadah) sedang terbaring sakit di pembaringan. Akhirnya kedua malaikat tersebut memutuskan untuk kembali ke langit untuk melapor kepada penguasa langit dan bumi”.

Seperti hari biasa, kami turun ke bumi untuk mencatat pahala hamba-Mu yang shaleh. Namun hari ini kami menjumpainya terbaring sakit di tempat tidurnya. Maka apa yang harus kami lakukan”. Lapor malaikat kepada Tuhannya.

Wahai dua malaikat-Ku! Selagi dia masih terbaring sakit, seperti hari biasanya, tulislah pahala untuknya tanpa dikurangi sedikitpun. Adalah kewajiban-Ku untuk tetap memberi pahala padanya sebelum dia sembuh seperti sedia kala!”


Hikmah :

Betapa Allah sangat menyukai dan memberi perhatian yang besar kepada seseorang yang beribadah secara istiqomah atau konsisten. Kisah tersebut menjelaskan bahwa seorang mukmin yang konsisten dalam beribadahnya, maka apabila suatu saat ia tidak bisa melakukan ibadah seperti biasa karena ada sebuah halangan ia akan tetap mendapat pahala seperti biasa saat ia beribadah.

Seorang mukmin yang dengan konsisten shalat berjamaah di masjid dan apabila suatu waktu ia sakit dan tidak bisa shalat berjamaah di masjid maka selama ia sakit maka ia akan tetap memperoleh pahala sebagaimana ia shalat berjamaah di masjid. Subhanallah!